Legenda Ganda Putra Indonesia Johan Wahyudi, Tutup Usia

Legenda ganda putra Indonesia, Johan Wahyudi, tutup usia (Foto : )

Kabar duka menghampiri dunia bulutangkis Indonesia. Salah satu legenda ganda putra Indonesia, Johan Wahyudi tutup usia, Jumat (15/11/2019). Johan Wahyudi meninggal dunia di usianya yang ke 66 tahun. Johan Wahyudi diketahui merupakan salah satu pemain ganda putra legendaris Indonesia yang paling bersinar di eranya. Berpasangan dengan Tjun-tjun, ia meraih banyak gelar di tahun 1970-an. Pasangan ini tercatat enam kali menjadi juara All England yaitu pada 1974, 1975, 1977, 1978, 1979 dan 1980. Selain itu ia berhasil memenangkan dua kali Thomas Cup, Juara Dunia, Juara Asia dan medali Asian Games. Johanes Wahyudi atau yang lebih akrab dipanggil Johan Wahyudi atau Johan ini, lahir tanggal 10 Februari 1953 di Malang, Jawa Timur. Ia mulai bermain bulutangkis sejak umur 4 tahun. Johan mengawali karirnya sebagai pemain bulutangkis di klub Gajah Putih Malang, lalu berlanjut dengan latihan di klub Rajawali Surabaya, yang banyak menghasilkan pemain dunia seperti Rudy Hartono (juara All England 8 kali). Di penghujung karirnya Johan dan Tjun Tjun mengalami kekecewaan yang sulit diungkapkan ke publik hingga akhirnya mengakhiri masa di Pelatnas tahun 1982. Kekecewaan tersebut membuatnya keduanya jarang berkecimpung di perbulutangkisan Indonesia. Johan sendiri memilih karir sebagai pengusaha. Ia sempat diminta menjadi manajer tim Indonesia di All England 1986 dengan membawa para pemain muda seperti Ardy Wiranata, Alan Budi Kusuma, Fung Permadi, dan para pemain lainnya. Dengan membawa para pemain yang belum terkenal saat itu, Johan menerapkan disiplin ketat agar meraih prestasi. Di luar dugaan, salah seorang pemain berhasil mencapai babak semifinal. Setelah bertahun-tahun kurang mendapat perhatian dari pemerintah sebagai legenda bulutangkis, Johan akhirnya memperoleh penghargaan tahun 2013. Di saat peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) di Yogyakarta, ia memperoleh hadiah rumah dari pemerintah. Johan sempat menangis karena prestasinya sewaktu muda, akhirnya mendapat penghargaan dari pemerintah.